NOTULEN
DISKUSI
MAKALAH HINDUISME KELOMPOK II
AGAMA YUNANI KUNO
Oleh :
Ahmad Khoirul
Fatihin
NIM : 111003210066
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
Notulen
Diskusi
Kelompok
Tema
Makalah : AGAMA PERSIA KUNO
Tujuan : Mengetahui Agama pada
zaman Yunani Kuno
Hari/tanggal : Senin, 07 April 2013
Waktu : Pukul 08.00 s/d 09.45
WIB
Tempat : Fakultas Ushuludin
Ruang 313
Pembicara : -Muharrom Syahrul Akbar
Dosen
Pembimbing : H. Siti Nadroh, M.Ag
Moderator : Kurniawan Nugraha
Notulis : Ahmad
Khoirul Fatihin
Pembanding : Intan Marhummah
Susunan
Acara :
Ø Pembukaan
Ø Penyajian
Materi
Ø Pembanding
Ø Tanya
Jawab
Ø Penutup
Diskusi
di buka oleh Moderator : Pukul 08.00 WIB
Uraian Dari Pemateri :
1.1 Latar
Belakang
Iran
dahulu dikenal dengan nama Persia. Penduduknya terdiri atas dua kelompok,
Bangsa Media dan Bangsa Persia, yang berpindah ke Persia dari Asia Tengah lebih
dari 2800 tahun lalu.[1]
Di sinilah terbentuk sebuah kerajaan besar, yaitu kerajaan Persia, yang
mempunyai wilyah kekuasaan yang besar dan penduduk yang banyak serta mempunyai
peradaban yang sangat maju.
Di
daerah kekuasaannya itu muncul suatu agama baru yang tumbuh dalam suatu kultus
yang sangat sederhana sekali pada masa itu, yaitu Agama Zoroaster. Agama ini
muncul dari seorang yang bernama Zarathustra. Agama ini mengajarkan banyak hal
tentang kehidupan di dunia. Agama ini menyembah api sebagai suatu simbol
kesucian dalam peribadatannya.
Ketika
Persia menguasai daerah-daerah yang luas, awalnya mengusir bangsa Yahudi dari
palestina, tapi semenjak Koresy memerintah, bangsa Yahudi boleh kembali ke
daerah daratan tempat mereka tinggal sebelumnya.
Hingga
pada abad ke-7 Islam datang ke Persia. Terjadi peradaban yang sangat besar
sekali pada masa itu dan masa puncak kejayaan pada masa Dinasti Safawi abad
ke-16. Islam Syiah sangat berpengaruh dalam kekuasaan ini.
Dalam
peradabannya yang sangat maju, pemakalah ingin memaparkan semua tentang ruang
lingkup Agama Persia sesuai dengan tujuan pada makalah ini yang akan dibahas.
1.2 Tujuan
·
Bertujuan untuk memberikan informasi
kepada pembaca mengenai pengertian dasar memaparkan dan menjelaskan tentang
apa itu Agama Persia Kuno, sejarah dan peradabannya,
siapa yang membawanya, dan apa saja semua ritual penyembahannya, sampai
eskatologi dalam agama tersebut, agama apa saja yang berhubungan dengan Persia,
sampai kedatangan Islam, hingga Iran di masa kini.
·
Sebagai acuan pembaca agar dapat mengetahui
lebih banyak mengenai hal tentang Agama Persia Kuno, Sejarah dan Peradaban di
daerah Persia (Iran) hingga kini.
·
Sebagai
pemenuhan tugas makalah yang dibutuhkan
sebagai syarat untuk menyelesaikan mata kuliah Agama-Agama Minor.
1.3 Metode
Metode yang di gunakan penulis
dalam mengumpulkan data penulisan makalah ini adalah metode studi pustaka dari
buku referensi buku yang terkait dan data dari internet sebagai tambahannya.
1.4 Sistematika Penulisan
Penulisan makalah ini terdiri dari
tiga bab. Bab yang pertama yaitu pendahuluan yang terdiri dari latar belakang,
tujuan, metode, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab kedua yaitu pembahasan
yang terdiri dari sejarah Persia Kuno, peradaban Persia Kuno, agama Persia
Kuno, praktek keagamaannya, konsep manusianya, dan eskatologinya. Bab yang
terakhir yaitu bab penutup yang berisi kesimpulan dari isi makalah ini.
BAB II
ISI
ISI
2.1 Sejarah Persia Kuno
Iran dan Persia adalah dua nama
yang kerap digunakan untuk menunjukkan satu wilayah. Sebenarnya, antara keduanya
terdapat sedikit perbedaan. Salah satu rumpun bangsa Arya[2],
yaitu bangsa Media, mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara rumpun bangsa
lainnya, yaitu banga Persia, mendiami bagian selatan wilayah tersebut. Baik
bangsa Media maupun Persia, keduanya tunduk pada kekuasaan bangsa Assyria. Namun, sejak 1000 SM, bangsa Persia berhasil
menaklukkan bangsa Media bahkan menaklukkan imperium Assyria. Sejak saat itu,
wilayah Iran dikenal dengan nama Persia.[3]
Kekaisaran Arkhemeniyah (Persia):
Imperium ini didirikan oleh Cyrus atau Koresh yang Agung pada tahun 550 SM.
Kerajaan ini menjadi imperium pertama kala itu. Pada tahun 486 SM, Raja Darius
I naik tahta, dan pada tahun 521 SM menguasai Iran. Pada tahun 334 SM,
Alexander Agung, Kaisar Macedonia, Yunani, merentangkan kekuasaannya hingga
mampu menaklukkan dan menguasai Imperium Persia. Alexander bahkan memerintahkan
pasukannya untuk membunuh ribuan tentara Persia, dan membakar ibu kotanya:
Parsepolis. Tindakan ini sengaja dia lakukan sebagai balasan atas pembakaran
kota Athena yang dulu dilakukan pasukan Persia. Alexander sendiri mengikrarkan
bahwa dia adalah pewaris tahta raja-raja Arkhemeniyah. Alexander pun mengikuti
cara hidup, tradisi, dan budaya Persia, bahkan berusaha menciptakan kebudayaan
baru yang memadukan kebudayaan Persia dan Yunani (helenistik). Selain
menaklukkan Persia dan menyemaikan Helenistik, Alexander juga menyungguhkan
model pemerintahan baru ala Persia kepada Barat-Yunani, khususnya yang
berkaitan dengan tata negara dan undang-undang, yang pada gilirannya menjadi
asas model tata Imperium Romawi di kemudian hari.
Setelah sesaat kematian Alexander
pada tahun 323 SM, terjadilah perpecahan diantara para panglima militernya.
Mereka pun mulai membagi wilayah kekuasaan yang telah ditaklukkan Alexander.
Wilayah Persia sendiri pada akhirnya menjadi milik panglima Seleukus, salah
seorang Jenderal Alexander. Sejak masa tersebut, Persia memasuki era
pemerintahan Kekaisaran Seleukus yang berlangsung hingga tahun 141 SM. Dibawah
kekaisaran Seleukus, Persia mengalami babak sejarah yang cemerlang. Kekaisaran
ini berhasil menggabungkan Asia Kecil, Syam, Irak, dan Iran menjadi satu
kesatuan wilayah. Ibukota baru pun didirikan sebagai pusat pemerintahannya,
yaitu Seleukia di tigris, Irak. Dinasti ini juga mempunyai ibu kota kedua di
wilayah bagian barat, yaitu Antakya yang terletak di lembah Sungai al-Ashi.[4]
Setelah itu, muncul kekaisaran
Parthia yang menguasai Persia pada tahun 247 SM- 224 M. Dalam lembar sejarah
Iran kuno, kekaisaran Parthia disebut juga Dinasti Arsacia. Nama Arsacia
dinisbahkan kepada raja pertamanya, yaitu
Arsacia I. Dinasti ini berasal dari klan Saka yang mendiami wilayah
timur laut Iran. Dinasti ini telah berhasil menaklukkan kekaisaran Seleukus
demi merentangkan pengaruh dan kekuasannya hingga ke seluruh wilyah Persia.
Nama Arsacia kemudian dipakai sebagai gelar untuk seluruh kekaisaran Parthia,
seperti gelar pada raja-raja Romawi. Kekaisaran Parthia (Arsacia) banyak
terlibat serangkaian perang dengan pihak Imperium Romawi. Mereka bahkan pernah
meraih kemenangan gemilang atas Romawi pada tahun 54 SM. Kemenangan ini menjadi
Imperium Persia (masa kekaisaran Parthia) menjadi satu-satunya kekuatan
terbesar dunia saat itu. Sekalipun rentang masa pemerintahan kekaisaran ini
mencapai lima abad lebih, namun tidak meninggalkan banyak jejak peradaban
bagaimana Kekaisaran Persia lainnya. Kekaisaran Parthia hanya meninggalkan
jejak seni yang sederhana.
Kekaisaran Sasanid: didirikan oleh
Ardhashir I yang berkuasa pada tahun 224 M. Dinasti ini dipercayai sebagai
pembangun dan penghidup kembali peradaban Persia dan Zoroaster, sekaligus
berupaya membangun kembali tradisi Persia peninggalan Dinasti Arkhemeniyah.
Dinasti ini justru membuka kontak dagang dengan pihak musuh utama mereka, yaitu
Romawi (Byzantium), juga dengan pihak Cina. Penggalian arkeologis di Cina
menemukan adanya koin-koin (mata uang) perak dan emas Sasanid yang digunakan
selama beberapa abad lainnya.
Ardhashir memiliki posisi yang
tinggi dalam sejarah orang-orang Iran. Dia dipandang sejarah orang-orang Iran.
Dia dipandang sebagai sosok yang berhasil menyatukan bangsa Iran, orang yang
menghidupkan kembali ajaran Zoroaster, sekaligus sebagai pendiri Imperium
Pahlavi. Ardhashir wafat pada tahun 240 M dan digantikan oleh putranya, Shapur
yang kembali memerangi Imperium byzantium, dan berhasil menaklukkan kaisar
Romawi, Valerian pada tahun 260 M. Beberapa waktu kemudian, Shapur mendirikan
akademi Gundishapur di Gundeshapur. Dia pun kembali membangun tata kerajaan dan
Imperium Persia, seperti membangun banyak kota-kota utama, salah satunya adalah
Nishapur. Pada periode berikutnya, muncul Raja Anusherwan (531-579 M) yang
dikenal sangat adil dan bijak dalam memerintah. Pada awal pemerintahannya, dia
telah mampu menghilangkan fitnah pengikut Mazdak dan memulihkan stabilitas
situasi di Iran. Kemudian, tahta Kekaisaran Sasanid bergantian pada masa
629-632 M. Pada tahun 642 M, pasukan muslim berhasil mengalahkan bangsa Persia
pada dua pertempuran: Perang Qadisiyah dan Perang Nahawan pada masa Khalifah
Umar bin Khatab. Setelah itu, kaum muslim tersebar di negara Persia hingga
pemerintahan Dinasti Sasanid berakhir.[6]
2.2
Peradaban Persia
Koresy memimpin pasukan penunggang
kuda dan pemanah ulung. Mengambil keuntungan dari kelemahan para tetangga, ia
menaklukkan sebuah kerajaan yang wilayahnya terentang dari Laut Mediterania
hingga ke Afganistan. Anaknya Cambyses, menyerang Mesir. Bangsa Persia mendapat
dukungan dari warga taklukan berkat pemerintahan yang adil. Darius I[8]
memperluas wilayah hingga ke India dan Yunani. Ia mengatur ulang kerajaan dan
menunjuk para satrap (gubernur) di setiap provinsi. Ia memungut pajak dari
setiap provinsi berupa padi-padian, perak dan hasil pertanian.[9]
Darius membangun banyak jalan dan
kota dagang untuk menjangkau seluruh bagian dari kerajaan yang luas. Ia
memajukan perdagangan dengan memperkenalkan mata uang standar. Bangsa Persia
menguasai ujung barat Jalur Sutera dari Cina, dan seluruh lalu lintas
perdagangan dari India ke Laut Mediterania. Kerajaan kosmopolitan yang makmur ini
menjalin hubungan dengan sebagian besar peradaban kuno pada masa itu. Namun,
kerajaan ini sangat bergantung pada kemampuan pemimpinnya. Akhirnya, bangsa
Yunani meruntuhkan kerajaan Persia dan merebut wilayah kekuasaan Persia.
2.3
Agama Persia
Kuno
Di sisi akidah, pada zaman dahulu mereka menyembah Allah dan
sujud kepad-Nya. Kemudian mereka menjadikan permisalan matahari, bulan, bintang
dan galaksi-galaksi di langit sebagai sesembahan, seperti juga selain mereka
dari generasi-generasi awal.[14]
Agama asli orang-orang persia adalah suatu kultus yang
sederhana sekali, yang berhubungan dengan kehidupan penggembalaan pertanian.
Akan tetapi kemudian seorang persia yang bernama Zarathustra mengembangkan
suatu agama baru yang disebut Zoroastrianisme.[15]
Zoroastrianisme merupakan kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau
"Tuhan yang bijaksana". Di dalam ajaran Zoroastrianisme, hanya ada
satu Tuhan
yang universal dan Maha Kuasa, yaitu Ahura Mazda.
Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala puja dan sembah ditujukan hanya
kepadanya. Pengakuan ini adalah bentuk penegasan bahwa hanya Ahura Mazda
yang harus disembah.
Zarathustra menunjukkan pemikirannya tentang perbaikan tujuan
arah negara yang beragama. Dia mengatakan, “Sesungguhnya cahaya Allah menjelma
dalam setiap sesuatu yang berkilau dan menyala di alam dunia. Dia memerintahkan
menghadap matahari dan api waktu beribadah, karena cahaya merupakan perlambang
Tuhan. Ia mengajarkan untuk tidak mengotori empat unsur, yaitu: api, udara,
debu dan air. Kemudian setelah itu datanglah para pendeta yang mengajak
pengikut Zarathustra untuk mengikutui syariat yang bermacam-macam. Mereka
mengharamkan menggunakan sesuatu yang ada hubungannya dengan api, mencukupkan
diri dengan segala perbuatan mereka hanya dengan pertanian dan perdagangan.
Dari ritual penyembahan api ini, kemudian dijadikanlah api sebagai kiblat
ritual ibadah dari berbagai tingkat golongan untuk menyembahnya. Selanjutnya,
mereka menjadi para penyembah api dengan makna sebenarnya. Mereka membangun
biara dan klenteng-klenteng, menentang setiap keyakinan dan agama selain
menyembah api.[16]
Menurut penganut Zoroaster, dzat Ahura Mazda adalah esensi murni
yang suci dari segala bentuk materi, yang tidak dapat dilihat oleh pandangan
mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal manusia. Banyak dari
manusia yang tidak mampu mengimani dzat dengan sifat seperti ini. Sehingga
Zoroastrianisme membuat rumusan tentang hakikat ketuhanan Ahura Mazda dengan
rumus[18]:
a)
Rumus pertama bersifat transenden[19]
(samawi) yang disimbolkan dengan matahari
b)
Rumus kedua bersifat imanen
(ardhi) yang disimbolkan dengan api.
Keduanya
adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci, serta tidak
dapat terkontaminasi oleh hal-hal yang buruk dan segala bentuk kerusakan.
Kepada cahayalah kehidupan semesta raya ini bergantung. Sifat inilah yang
paling mendekati untuk digambarkan oleh akal manusia akan sifat Maha Pencipta.
Zoroastrianisme adalah suatu agama yang bersifat “keduaan” atau dualistis[20].
Disebutkan bersifat keduaan karena para penganutnya percaya bahwa ada dua
kekuatan yang saling berperang terus menerus, yakni kekuatan yang baik dan
kekuatan yang jahat.
Kekuatan yang baik diwakili oleh Ormadz, sang dewa tertinggi,
bersama dengan para pembantunya yang adalah para malaikat. Sedangkan kekuatan
yang jahat diwakili oleh Ahriman, si dewa kejahatan, bersama dengan kumpulan
setan-setan yang membantunya.[21]
Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan
Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan
dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut diakui keberadaanya ada
lima yaitu[22]:
2.
Vohu Manah, dewa yang
digambarkan sebagai sapi jantan ini
dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik.
3.
Keshatra
Vairya, yaitu dewa
yang berkuasa atas segala logam.
2.4 Kitab Suci
Kitab suci agama zoroaster dikenal dengan nama Avesta. Avesta
berasal dari akar kata avistak, bermakna Bacaan.[23]
Ada tiga bagian di dalam kitab ini[24]:
1.
Gathas, Nyanyian” atau “ode” atau
yang secara umum dan tepat dinisbahkan pada Zoroaster sendiri
2.
Yashts atau himne korban yang
ditujukan kepada berbagai macam dewa
3.
Vendidat atau Videvdat, “aturan
melawan syetan”, berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian
ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroaster dan diuraikan
sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.
2.5 Praktek Keagamaan
Zoroaster menganjurkan pengikutnya untuk senantiasa
menyalakan api suci di tungku-tungku api yang terdapat di setiap kuil
peribadatan. Api tersebut harus selalu menyala dan memancarkan cahaya. Tungku
api itu dijaga dan diurus oleh Magi[25],
rohaniawan muda, juga oleh para pendeta kuil. Setiap hari, mereka selalu
memasukkan kayu cendana ke dalam tungku api sebanyak lima kali, atau kayu lain
yang mengeluarkan aroma wewangian khas, juga menaburkan serbuk-serbuk dan
cairan wewangian sehingga udara di dalam kuil selalu terasa segar dan harum
semerbak. Mereka juga merapalkan doa dan melaksanakan ritual keagamaan disekitar
api tersebut.[26]
Dalam tradisi Zoroastrianisme, ketika akan mendirikan sebuah
kuil api baru, mereka diharuskan menyalakan api terlebih dahulu pada sembilan
buah lilin atau obor. Nyala api di obor pertama kemudian disalurkan untuk nyala
api obor kedua, dan seterusnya hingga pada obor yang ke sembilan. Pengikut
Zoroaster meyakini, api yang menyala pada obor terakhir itulah yang telah
sampai pada derajat kesucian api. Dan dari api kesembilan itu mereka menyalakan
api pada tungku kuil baru tersebut.
2.6
Konsep
Mengenai Etika Hidup
Dalam
pandangannya mengenai etika hidup yang ideal, ada tiga hal utama yang
ditekankan dalam Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik, perkataan yang baik
dan perbuatan yang baik. Zoroastrianisme memberikan kebebasan bagi setiap
penganutnya untuk memilih hidup yang baik atau jahat bagi dirinya
sendiri. Menurut mereka dunia yang akan datang akan mengalami
pembaruan. Pembaruan dunia ini tidak dapat dapat dikerjakan oleh satu
orang saja tetapi membutuhkan keterlibatan banyak orang. Oleh karena itu,
Zoroastrianisme sangat menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang
untuk melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah penolakan
untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura Mazda. Mereka meyakini
bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang
dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan
terjadi setelah meninggal. Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka
memahami bahwa dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri dan
bertapa karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan
berarti menolak Sang Pencipta.[30]
2.7 Konsep Kematian
Agama
Zoroaster meyakini bahwa tubuh manusia adalah tidak suci sehingga menurut
mereka jasad manusia tidak boleh mengotori bumi dan api, atas dasar alasan
tersebut jasad manusia tidak boleh di kubur atau di kremasi. Oleh sebab itu
orang yang telah meninggal jenazahnya akan di bawa ke kuil Towers of Silence
agar di makan oleh burung pemakan bangkai, burung Nasar. Setelah daging dimakan
habis oleh burung Nasar dan tinggal tersisa tulang belulang, maka tulang-tulang
tersebut akan di buang ke tengah bangunan.[31]
2.8 Konsep Kehidupan Setelah Mati (Eskatologi)
Para pengikut Zoroaster percaya bahwa ada suatu peperangan
sorgawi yang berlangsung diantara dua kekuatan itu dan akhirnya (yakni pada
akhir zaman) Ormadz-lah yang akan menang. Menurut mereka Zorostrianisme
mengajar manusia untuk melayani dewa kebaikan dan mematuhi suatu hukum
tertinggi mengenai tingkah laku yang mengungkapkan suatu moralitas yang lemah
lembut. Para pengikut ini yakin bahwa kematian bukanlah akhir dari segala
sesuatu, melainkan akan ada suatu kehidupan baru bagi orang-orang yang benar
ketika Ormadz menang.[33]
Manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Siapa yang memilih
kebaikan dan kebenaran, maka dia akan menuai hasilnya di kehidupan akhirat yang
abadi kelak. Adapun orang yang membela kejahatan dan kedustaan, dia pun akan
mendapatkan siksa di neraka yang abadi.
3.1
Persia Terhadap Yahudi
Orang Persia memerintah Palestina selama abad terakhir dari
sejarah Perjanjian Lama. Alkitab membicarakan kurun waktu ini dalam kisah-kisah
Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, dan dalam dua ayat pada akhir kitab II Tawarikh.
Bagi orang Yahudi ini merupakan periode pemugaran dan pembangunan kembali. Bagi
orang Persia ini merupakan periode pengembangan kerajaan.
Orang Yahudi telah dibuang ke Babilonia selama hampir 60
tahun ketika orang Persia menaklukkan negeri itu pada tahun 539 sM. Dua tahun
kemudian Koresy II, raja Persia, mengizinkan para buangan ini kembali ke tanah
air mereka. Lalu ia maju terus untuk menaklukkan Mesir, suatu prestasi yang
tercapai oleh putranya pada tahun 526 sM.
Dengan gembira orang Yahudi menanggapi tawaran Koresy. Pada
tahun dekrit itu diumumkan (538 sM), banyak orang Yahudi bersiap-siap untuk
pulang. Kita harus ingat bahwa keputusan mereka untuk pulang bukanlah keputusan
yang mudah. Orang-orang Yahudi yang telah mematuhi nasihat Yeremia (Yer.
29:5, dst.) telah menjadi mapan di Babel. Mereka sudah membeli rumah,
menanam kebun, dan mendirikan usaha perdagangan dalam pembuangan.
Lempeng-lempeng perdagangan Babel menyatakan nama orang-orang Yahudi, yang
menunjukkan bahwa orang Yahudi mempunyai kedudukan yang baik di Babel pada
zaman itu. "Kaum Zionis" zaman purba ini harus meninggalkan segala
sesuatu yang telah mereka bangun dalam pembuangan untuk kembali ke tanah air
yang miskin. Orang-orang yang memulai perjalanan panjang yang berbahaya dari
Babel ke Palestina membutuhkan kepercayaan kepada Allah, jiwa perintis, dan
kehendak yang kuat untuk membangun kembali negeri mereka.[34]
Segera sesudah orang Yahudi tiba di Yerusalem, Sesbazar
memberi instruksi kepada rakyatnya untuk mengikuti perintah Koresy untuk membangun
kembali bait suci. Zerubabel dari keluarga Daud dan Yosua imam besar memimpin
rakyat dalam mengucap syukur dan meletakkan dasar bait suci. Para imam dan
orang Lewi memimpin mereka dalam puji-pujian. "Sebab Ia baik! Bahwasanya
untuk selama-lamanya kasih setia-Nya kepada Israel!" (Ezr.
3:11). Hanya orang-orang yang telah melihat kemegahan bait Salomo dapat
membandingkannya dengan bangunan sederhana yang sedang dibangun di hadapan mata
mereka. Mereka yang mengingatnya menangis, sedangkan orang-orang Yahudi yang
lebih muda bersorak-sorai karena sukacita ketika menyaksikan permulaan yang
baru ini. Mereka mengetahui bahwa hal ini menggenapi janji-janji Allah kepada para
nabi yang didasarkan pada perjanjian-Nya dengan Abraham (Ezr.
3:12-13).
4.1 Islam di
Persia
Islam masuk
ke Persia sudah sejak pada masa dinasti Bani Umayyah. Hal tersebut ditandai
dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat,
wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas.
Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah
Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia Aghanistan, daerah yang sekarang
disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah.[35]
Setelah itu,
di Persia muncul sebuah kerajaan besar ketika masa puncak kejayaan Kerajaan
Usmani, yaitu Kerajaan Safawi. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam
perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan Turki Usmani. Kerajaan
Safawi menyatakan Syi’ah sebagai mahzab negara. Karena itu, kerajaan ini dapat
dianggap sebagai peletak pertama dasar terbentuknya negara Iran dewasa ini.
Kerajaan
Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota
di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu
yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani. Nama Safawiyah,
diambil dari nama pendirinya, Safi al-Din[36]
(1252-1334 M), dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai Tarekat ini
menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini
berhasil mendirikan kerajaan.
Safi al-Din mnendirikan tarekat
Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun
1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh dan memegang ajaran agama. Pada
mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar,
kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “ahli-ahli bidah”. Tarekat yang
dipimpin Safi al-Din ini semakin penting terutama setelah ia mengubah bentuk
tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan
keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syria, dan Anatolia. Di
negeri-negeri di luar Ardabil Safi al-Din menempatkan seorang wakil yang
memimpin murid-muridnya. Wakil itu diberi gelar “khalifah”.
Suatu ajaran
agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerap kali menimbulkan keinginan di
kalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu, lama-kelamaan
murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik
dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermahzab selain Syi’ah.
Kecendrungan
memasuki dunia politik itu mendapat wujud kongkritnya pada masa kepemimpinan
Juneid (1447-1460 M). Dinasti safawi memperluas geraknya dengan menambahkan
kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan
konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Konyulu (domba hitam), salah satu
suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut Juneid
kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat
perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, Ak-Konyulu (domba putih), juga satu suku
bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan yang ketika itu menguasai
sebagian besar Persia.[37]
Dinasti Safavid mencapai puncak kejayaan di bawah Shah Abbas
Agung (1571-1629) yang memerintah sejak 1588. Sebagai pemimpin militer yang
cakap, ia berdamai dengan orang Ottoman dan menghalau orang Turki Uzbek dari
timur Iran. Ia memindahkan ibukota ke Isfahan dan menjadikannya salah satu kota
terindah di dunia dengan sebuah istana dan masjid yang megah. Bazar (pasar)
tertutup mengelilingi lapangan utama, sementara pohon dang sungai kecil
mengapit lapangan pasar itu. Terdapat juga sebuah jalan utama dengan taman di
kedua sisinya. Abbas menghidupkan kembali kebudayaan Persia, memnagun hubungan
yang bersahabat dengan bangsa eropa, dang menyambut baik para pengunjung asing.[38]
Pemerintahan dinasti kuat ini berlangsung selama 200 tahun.
Safavid[39]
Persia terus ditekan oleh orang Ottoman dari barat dan suku-suku Turki dari
timur, hingga pemerintahan Abbas I berhasil membuat perdamaian dan menciptakan
pembaharuan kebudayaan di Persia. Setelah kematiannya pada tahun 1628, sejumlah
penguasa yang lemah menggantikan Abbas I. Akhirnya, dinasti Safavid
disingkirkan oleh para penyerbu Afgan pada tahun 1722.
4.2 Sumbangan Islam di Persia
1.
Bidang Ekonomi
Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada
masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi,
lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan dan Pelabuhan Gumrun diubah
menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur
dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda,
Inggris dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. Disamping faktor
perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian
terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent)
2.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Ada beberapa ilmuan yang selalu hadir di majlis istana, yaitu
Baha al-Din al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi,
filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog
dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah.[40]
3.
Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan
Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut
berdiri bangunan-bangunan besar dan indah seperti masjid-masjid, rumah sakit,
sekolah-sekolah, jembatan raksasa diatas Zende Rud dan istana Chihil Sutun.
Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata apik
Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya
arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada masjid Shah yang
dibangun pada tahun 1611 M dan masjid Shah yang dibangun pada tahun 1603 M.
Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik,
karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar dan bidang seni lainnya.
Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I. Raja Ismail I pada tahun 1522
M membawa seorang pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad.[41]
4.1
Iran Sekarang

Gambar 10
Peta Iran Sekarang
Wilayah Iran sekarang, yaitu:
·
Sebelah Utara berbatasan
dengan Turkmenistan dan Azerbaijan.
·
Sebelah Timur berbatasan
dengan Afghanistan dan Pakistan.
·
Sebelah Barat berbatasan
dengan Irak dan Turki.
Selain itu Iran memiliki garis pantai dengan tiga laut besar:
Teluk Oman, Teluk (Teluk Persia), dan Laut Kaspia. Kenampakan utama geografi
negara ini adalah beberapa rangkaian pegunungan besar dan plato raksasa.
Pegunungan Iran yang paling panjang, pegunungan Zagros, terlentang dari arah
barat-laut menuju perbatasan dengan Armenia di selatan dan tenggara, melintasi
kawasan teluk, dan berakhit di dekat Selat Hormuz yang menghubungkan teluk
denga teluk Oman.[42]
4.2
Ekonomi Minyak
Ekonomi Iran sangat bergantung pada sumber daya alam. Sekitar
85 persen pendapatan ekspor berasal dari minyak dan gas. Iran memiliki sekitar
delapan persen cadangan minyak dunia dan hampir seperlima cadangan gas alam
dunia. Sebelumnya, dari tahun 1953 sampai pada tahun 1979, Iran adalah negara
yang menganut sistem pemerintahan monarkhi. Pemimpin saat itu, Shah Mohammad
Reza Pahlavi memperkenalkan modernisasi. Dibawah pemerintahannya, Iran mulai
membangun industri pengolahan dan pengiriman minyak yang berpusat dari
pelabuhan-pelabuhan besar di Teluk persia, yaitu Bandar-e’ Abbas dan Abadan.
Berbagai industri seperti kimia, tekstil, mesin dan produksi semen juga
dibangun.[43]
4.3 Revolusi dan Perang
Rakyat Iran dikenal sangat kuat memegang praktek
keagamaannya, Islam, dalam kehidupan sehari-hari. Pada 1979, sebuah revolusi
menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Iran dideklarasikan sebagai Republik
Islam. Hukum Islam diberlakukan dalam semua aspek kehidupan dan semua pengaruh
barat dilarang. Serangan Irak pada 1980 yang memunculkan perang selama 8 tahun
menyebabkian sekitar 100.000 pasukan Iran tewas. Hingga kini, negara ini
kadang-kadang jatuh ke dalam konflik dengan negara tetangganya di Timur Tengah
dan negara-negara Barat.[48]
BAB III
KESIMPULAN
Iran dan Persia adalah dua nama yang kerap digunakan untuk
menunjukkan satu wilayah. Sebenarnya, antara keduanya terdapat sedikit
perbedaan. Salah satu rumpun bangsa Arya, yaitu bangsa Media, mendiami wilayah
Iran bagian barat. Sementara rumpun bangsa lainnya, yaitu banga Persia,
mendiami bagian selatan wilayah tersebut.
Di peradaban persia kuno berkembang sebuah agama yang menjadi
agama resmi di wilayah tersebut yaitu Zoroaster. Agama ini merupakan sebuah
agama yang mengajarkan pengikutnya untuk menyembah api. Kitab suci agama ini
adalah Avesta yang mempunyai arti sendiri yaitu “bacaan”.
Wilayah Iran sekarang yang kaya akan minyak dan gas alam itu
berbatasan dengan:
·
Sebelah Utara berbatasan
dengan Turkmenistan dan Azerbaijan.
·
Sebelah Timur berbatasan
dengan Afghanistan dan Pakistan.
·
Sebelah Barat berbatasan
dengan Irak dan Turki.
Tanggapan Pembanding
Intan Marhummah:
A.
Sejarah
dan Perkembangan Persia
Iran
atau Pesia adalah sebuah negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Meski di dalam negeri negara ini telah dikenal
sebagai Iran sejak zaman kuno, hingga tahun 1935 Iran masih
dipanggil Persia di dunia Barat. Iran dan Persia
adalah dua nama yang kerap digunakan untuk menunjukkan satu wilayah. Sebenarnya,
antara keduanya terdapat sedikit perbedaan. Salah satu rumpun bangsa Arya,
yaitu bangsa Media, mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara rumpun bangsa
lainnya, yaitu bangsa Persia, mendiami bagian selatan wilayah tersebut. Ras Arya merupakan salah satu ras Indo-European. Migrasi
bangsa Arya ke berbagai belahan bumi seperti ke Asia kecil dan India dimulai
pada 2.500 Sebelum Masehi (SM). Peradaban di dataran tinggi Iran dimulai 600
tahun SM di mana saat itu terdapat 2 kerajaan yakni Parsa di sebelah Selatan
dan Medes di Timur Laut Iran.[49]
Baik bangsa Media maupun Persia, keduanya tunduk pada kekuasaan bangsa
Assyria. Namun, sejak 1000 SM, bangsa
Persia berhasil menaklukkan bangsa Media bahkan menaklukkan imperium Assyria.
Sejak saat itu, wilayah Iran dikenal dengan nama Persia.[50]
Iran
berbatasan dengan Azerbaijan (500
km) dan Armenia (35
km) di barat laut dan Laut
Kaspia di
utara, Turkmenistan (1000
km) di timur laut,Pakistan (909
km) dan Afganistan (936
km) di timur, Turki (500
km) dan Irak (1.458
km) di barat, dan perairan Teluk
Persia dan Teluk
Oman di
selatan.[51]
1. Masa Kekaisaran Akhemeniyah dan Kekaisaran Media
Pada milenium kedua dan
ketiga, Bangsa Arya hijrah
ke Iran dan mendirikan kekaisaran pertama Iran, Kekaisaran
Media (728-550
SM). Kekaisaran ini telah menjadi simbol pendiri bangsa dan juga kekaisaran
Iran, yang disusul dengan Kekaisaran Achaemenid (648–330
SM) yang didirikan oleh Cyrus
Agung.
Cyrus
Agung juga
terkenal sebagai pemerintah pertama yang mewujudkan undang-undang mengenai
hak-hak kemanusiaan, tertulis di atas artefak yang dikenal sebagai Silinder Cyrus.
Ia juga merupakan pemerintah pertama yang memakai gelar Agung dan
juga Shah Iran.
Di zamannya, perbudakan dilarang di kawasan-kawasan taklukannya (juga dikenal
sebagai Kekaisaran
Persia.) Gagasan ini kemudian memberi dampak yang besar
pada peradaban-peradaban manusia setelah zamannya.
Kekaisaran Persia kemudian
diperintah oleh Cambyses selama tujuh tahun (531-522 M) dan kemangkatannya
disusul dengan perebutan kuasa di mana akhirnya Darius
Agung (522-486
M) dinyatakan sebagai raja.
Ibu kota Persia pada zaman Darius
I dipindahkan
ke Susa dan
ia mulai membangun Persepolis.
Sebuah terusan di antara Sungai
Nil dan Laut
Merah turut
dibangun dan menjadikannya pelopor untuk pembangunan Terusan
Suez.
Sistem jalan juga turut diperbaharui dan sebuah jalan raya dibangun
menghubungkan Susa dan Sardis. Jalan
raya ini
dikenal sebagai Jalan Kerajaan.
Selain itu, pen-syiling-an
dalam bentuk daric (syiling emas) dan juga Shekel (syiling perak) diperkenalkan ke seluruh dunia. Bahasa Persia Kuno turut
diperkenalkan dan diterbitkan di dalam prasasti-prasasti kerajaan.
Di bawah pemerintahan Cyrus
Agung dan Darius
yang Agung, Kekaisaran Persia menjadi sebuah kekaisaran yang
terbesar dan terkuat di dunia zaman
itu. Pencapaian utamanya ialah sebuah kekaisaran besar pertama yang mengamalkan
sikap toleransi dan menghormati budaya-budaya dan agama-agama lain di kawasan
jajahannya.[52]
Pada tahun 334 SM, Alexander
Agung, Kaisar Macedonia, Yunani, merentangkan kekuasaannya hingga mampu
menaklukkan dan menguasai Imperium Persia. Alexander bahkan memerintahkan
pasukannya untuk membunuh ribuan tentara Persia, dan membakar ibu kotanya:
Parsepolis. Tindakan ini sengaja dia lakukan sebagai balasan atas pembakaran
kota Athena yang dulu dilakukan pasukan Persia. Alexander sendiri mengikrarkan
bahwa dia adalah pewaris tahta raja-raja Arkhemeniyah. Alexander pun mengikuti
cara hidup, tradisi, dan budaya Persia, bahkan berusaha menciptakan kebudayaan
baru yang memadukan kebudayaan Persia dan Yunani (helenistik). Selain
menaklukkan Persia dan menyemaikan Helenistik, Alexander juga menyungguhkan
model pemerintahan baru ala Persia kepada Barat-Yunani, khususnya yang
berkaitan dengan tata negara dan undang-undang, yang pada gilirannya menjadi
asas model tata Imperium Romawi di kemudian hari.
Setelah sesaat kematian
Alexander pada tahun 323 SM, terjadilah perpecahan diantara para panglima
militernya. Mereka pun mulai membagi wilayah kekuasaan yang telah ditaklukkan
Alexander. Wilayah Persia sendiri pada akhirnya menjadi milik panglima
Seleukus, salah seorang Jenderal Alexander. Sejak masa tersebut, Persia
memasuki era pemerintahan Kekaisaran Seleukus yang berlangsung hingga tahun 141
SM. Dibawah kekaisaran Seleukus, Persia mengalami babak sejarah yang cemerlang.
Kekaisaran ini berhasil menggabungkan Asia Kecil, Syam, Irak, dan Iran menjadi
satu kesatuan wilayah. Ibukota baru pun didirikan sebagai pusat
pemerintahannya, yaitu Seleukia di tigris, Irak. Dinasti ini juga mempunyai ibu
kota kedua di wilayah bagian barat, yaitu Antakya yang terletak di lembah
Sungai al-Ashi.
2. Masa Kekaisaran Parthia
Kekaisaran Pathia (247-224) bermula dengan Dinasti Arsacida yang
menyatukan dan memerintah dataran tinggi Iran, yang juga turut menaklukkan
wilayah timur Yunani pada
awal abad ketiga Masehi dan juga Mesopotamia antara
tahun 150 SM dan 224 M. Nama Arsacia dinisbahkan kepada raja pertamanya,
yaitu Arsacia I. Dinasti ini berasal
dari klan Saka yang mendiami wilayah timur laut Iran. Dinasti ini telah
berhasil menaklukkan kekaisaran Seleukus demi merentangkan pengaruh dan
kekuasannya hingga ke seluruh wilyah Persia. Nama Arsacia kemudian dipakai
sebagai gelar untuk seluruh kekaisaran Parthia, seperti gelar pada raja-raja
Romawi. Kekaisaran Parthia (Arsacia) banyak terlibat serangkaian perang dengan
pihak Imperium Romawi. Mereka bahkan pernah meraih kemenangan gemilang atas
Romawi pada tahun 54 SM. Kemenangan ini menjadi Imperium Persia (masa
kekaisaran Parthia) menjadi satu-satunya kekuatan terbesar dunia saat itu.
Sekalipun rentang masa pemerintahan kekaisaran ini mencapai lima abad lebih,
namun tidak meninggalkan banyak jejak peradaban bagaimana Kekaisaran Persia
lainnya. Kekaisaran Parthia hanya meninggalkan jejak seni yang sederhana.[53]
Tentara-tentara Parthia
terhagi atas dua kelompok berkuda, tentara berkuda yang berperisai dan membawa
senjata berat, dan tentara berkuda yang bersenjata ringan dan kudanya lincah
bergerak. Sementara itu, tentara Romawi terlalu bergantung kepada infantri,
menyebabkan Romawi sukar untuk mengalahkan Parthia. Tetapi, Parthia kekurangan
teknik dalam perang tawan, menyebabkan mereka sukar mengawal kawasan taklukan.
Ini menyebabkan kedua belah pihak gagal mengalahkan satu sama lain.
Kekaisaran Parthia tegak
selama lima abad (Berakhir pada tahun 224 M,) dan raja terakhirnya kalah di
tangan kekaisaran lindungannya, yaitu Sassania.[54]
3. Masa Kekasiran Sasania
Kekaisaran Sasanid: didirikan
oleh Ardhashir I yang berkuasa pada tahun 224 M. Dinasti ini dipercayai sebagai
pembangun dan penghidup kembali peradaban Persia dan Zoroaster, sekaligus
berupaya membangun kembali tradisi Persia peninggalan Dinasti Arkhemeniyah.
Dinasti ini justru membuka kontak dagang denga pihak musuh utama mereka, yaitu
Romawi (Byzantium), juga dengan pihak Cina. Penggalian arkeologis di Cina
menemukan adanya koin-koin (mata uang) perak dan emas Sasanid yang digunakan
selama beberapa abad lamanya.
Ardhashir memiliki posisi yang
tinggi dalam sejarah orang-orang Iran. Dia dipandang sejarah orang-orang Iran. Dia
dipandang sebagai sosok yang berhasil menyatukan bangsa Iran, orang yang
menghidupkan kembali ajaran Zoroaster, sekaligus sebagai pendiri Imperium
Pahlavi. Ardhashir wafat pada tahun 240 M dan digantikan oleh putranya, Shapur
yang kembali memerangi Imperium byzantium, dan berhasil menaklukkan kaisar
Romawi, Valerian pada tahun 260 M. Beberapa waktu kemudian, Shapur mendirikan
akademi Gundishapur di Gundeshapur. Dia pun kembali membangun tata kerajaan dan
Imperium Persia, seperti membangun banyak kota-kota utama, salah satunya adalah
Nishapur. Pada periode berikutnya, muncul Raja Anusherwan (531-579 M) yang
dikenal sangat adil dan bijak dalam memerintah. Pada awal pemerintahannya, dia
telah mampu menghilangkan fitnah pengikut Mazdak dan memulihkan stabilitas
situasi di Iran. Kemudian, tahta Kekaisaran Sasanid bergantian pada masa
629-632 M. Pada tahun 642 M, pasukan muslim berhasil mengalahkan bangsa Persia
pada dua pertempuran: Perang Qadisiyah dan Perang Nahawan pada masa Khalifah
Umar bin Khatab. Setelah itu, kaum muslim tersebar di negara Persia hingga
pemerintahan Dinasti Sasanid berakhir.[55]
Kepemimpinan
Umar bin Khattab tak seorang pun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar
setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya
kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir,
Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan
Kairo.
Penyerangan
Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia
telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci
kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa
kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada
di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu
langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan
mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab
di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya.
Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur
mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus
dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.[56]
4. Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia
[57]Setelah pemelukan Islam, orang-orang Persia mulai membentuk gambaran Islam Persia, di mana mereka melestarikan gambaran sebagai orang Persia tetapi pada masa yang sama juga sebagai muslim. Pada tahun 8 M, Parsi memberi bantuan kepada Abbassiyah memerangi tentara Umayyah, karena Bani Umayyah hanya mementingkan bangsa Arab dan memandang rendah kepada orang Persia. Pada zaman Abbassiyah, orang-orang Persia mula melibatkan diri dalam administrasi kerajaan. Sebagian mendirikan dinasti sendiri.
Pada abad kesembilan dan kesepuluh, terdapat beberapa kebangkitan ashshobiyyah Persia yang menentang gagasan Arab sebagai Islam dan Muslim. Tetapi kebangkitan ini tidak menentang identitas seorang Islam. Salah satu dampak kebangkitan ini ialah penggunaan bahasa Persia sebagai bahasa resmi Iran (hingga hari ini.)
Pada zaman ini juga, para ilmuwan Persia menciptakan Zaman Kegemilangan Islam. Sementara itu Persia menjadi tumpuan penyebaran ilmu sains, filsafat dan teknik. Ini kemudian memengaruhi sains di Eropa dan juga kebangkitan Renaissance.
Bermula pada tahun 1220, Parsi dimasuki oleh tentera Mongolia di bawah pimpinan Genghis Khan, diikuti dengan Tamerlane, dimana kedua penjelajah ini menyebabkan kemusnahan yang parah di Persia.
5.
Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi dan Iran
Modern
[58]Parsi
mulai berganti menjadi Islam Syiah pada zaman Safawi, pada tahun 1501. Dinasti Safawi kemudian menjadi salah satu
penguasa dunia yang utama dan mulai mempromosikan industri pariwisata di Iran.
Di bawah pemerintahannya, arsitektur Persia berkembang kembali dan menyaksikan
pembangunan monumen-monumen yang indah. Kejatuhan Safawi disusuli dengan Persia
yang menjadi sebuah medan persaingan antara kekuasaan Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran
Britania (yang menggunakan pengaruh Dinasti Qajar). Namun
begitu, Iran tetap melestarikan kemerdekaan dan wilayah-wilayahnya,
menjadikannya unik di rantau itu. Modernisasi Iran yang bermula pada lewat abad
ke-19, membangkitkan keinginan untuk berubah dari orang-orang Persia. Ini
menyebabkan terjadinya Revolusi Konstitusi Persia pada tahun 1905 hingga 1911.
Pada tahun 1921, Reza Khan (juga dikenal
sebagai Reza Shah) mengambil alih tahta melalui perebutan kekuasaan dari Qajar
yang semakin lemah. Sebagai penyokong modernisasi, Shah Reza memulai
pembangunan industri modern, jalan
kereta api, dan pendirian sistem pendidikan tinggi di Iran. Malangnya, sikap
aristokratik dan ketidakseimbangan pemulihan kemasyarakatan menyebabkan banyak
rakyat Iran tidak puas.
Pada Perang Dunia II, tentara
Inggris dan Uni Soviet menyerang Iran dari 25 Agustus hingga 17 September 1941,
untuk membatasi Blok Poros dan menggagas infrastruktur penggalian minyak Iran.
Blok Sekutu memaksa Shah untuk melantik anaknya, Mohammad Reza
Pahlavi menggantikannya, dengan harapan Mohammad Reza menyokong mereka.
Malangnya,
pemerintahan Shah Mohammad Reza bersifat otokratis. Dengan bantuan dari Amerika
dan Inggris, Shah meneruskan modernisasi Industri Iran, tetapi pada masa yang
sama menghancurkan partai-partai oposisi melalui badan intelijennya, SAVAK. Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi oposisi
dan pengkritik aktif terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza dan kemudian ia
dipenjarakan selama delapan belas bulan. Melalui nasihat jenderal Hassan
Pakravan, Khomeini dibuang ke luar negeri
dan diantar ke Turki dan selepas itu ke Irak.
[59]Protes
menentang Shah semakin meningkat dan akhirnya terjadilah Revolusi
Iran. Shah Iran terpaksa melarikan diri ke negara lain
setelah kembalinya Imam
Khomeini dari pembuangan pada 1
Februari 1979. Khomeini kemudian mengambil alih kekuasaan
dan membentuk pemerintahan sementara, pada 11
Februari yang dikepalai Mehdi
Bazargan sebagai perdana menteri. Setelah itu, Khomeini
mengadakan pungutan suara untuk membentuk sebuah Republik
Islam. Keputusan undian menunjukkan lebih dari 98%
rakyat Iran setuju dengan pembentukan itu. Sistem pemerintahan baru yang
dibentuk berasaskan undang-undang Islam, sayangnya hanya diterapkan sebagian.
Tetapi,
hubungan Iran dengan Amerika menjadi keruh setelah revolusi ini, terutama saat
mahasiswa-mahasiswa Iran menawan kedutaan Amerika pada 4 November 1979, atas alasan kedutaan itu menjadi pusat
intelijen Amerika. Khomeini tidak mengambil tindakan apapun mengenai tidakan
ini sebaliknya memuji mahasiswa-mahasiswa itu. Sebagai balasan, Iran menginginkan ShahMohammad Reza Pahlavi dikembalikan ke Iran, tetapi ini tidak mereka
setujui. Setelah 444 hari di dalam tawanan, akhirnya para tawanan itu
dibebaskan sebagai tindak lanjut Deklarasi Aljir.
Pada
saat yang sama, Saddam
Hussein, presiden Irak saat itu, mengambil kesempatan di atas
kesempitan setelah revolusi Iran dan juga kekurangan popularitas Iran di
negara-negara barat, untuk melancarkan perang atas Iran. Tujuan utama
peperangan ini ialah menaklukkan beberapa wilayah yang dituntut Irak,
terutamanya wilayah Khuzestan yang kaya dengan sumber minyak. Saddam pula
ketika itu mendapat sokongan dari Amerika, Uni
Soviet dan beberapa negara Arab lain. Tentara Iran
pula yang suatu masa dahulu merupakan sebuah tentara yang kuat, telah
dibubarkan saat itu. Walau bagaimanapun, mereka berhasil mencegah bahaya
tentara Irak seterusnya menaklukkan kembali wilayah Iran
yang ditaklukkan Irak. Dalam peperangan ini puluhan ribu nyawa, baik penduduk
awam maupun laskar Iran, menjadi korban. Jumlah korban diperkirakan antara
500.000 hingga 1.000.000.
Iran
adalah salah satu di antara anggota pendiri PBB dan juga kepada OKI dan juga GNB.
Sistem politik di Iran berasaskan konstitusi yang dinamakan "Qanun-e
Asasi" (Undang-undang Dasar)
B.
Agama
Persia Kuno
Bangsa
Iran sangat erat hubungannya dengan bangsa Indo-Arya, yang menyerbu anak benua
Indo-Pakistan sekitar 1500 SM, dan telah menulis Weda. Mereka tinggal
bersama-sama selama berabad-abad di Afghanistan, Bactria, dan Iran Utara.
Pada
awalnya, kepercayaan bangsa Persia kuno ini erat kaitannya dengan hijrahnya
bangsa indo-Arya ke Persia, karena bangsa indo-Arya memegang kepercayaan
terhadap banyak Dewa (Polytheisme). Bagi
mereka, tiap-tiap dewa merupakan lambang kekuatan terhadap alam sehingga perlu
disembah/ dipuja dan dihormati. Selain itu, pada saat di India kepercayaan Arya
jga bercampur-baur dengan kepercayaan bangsa Dravida yaitu mempercayai pemujaan
terhadap roh nenek moyang.
Dewa-dewa bangsa
indo-Arya yang di puja dan dihormati yaitu Armiti sebagai dewa Bumi,
Mithra sebagai Dewa Matahari, Bayu sebagai Dewa Angin[60], Varuna sebagai
Dewa Laut, Agni sebagai Dewa Api.[61]
Kemudian, sekitar
tahun 660-583 SM muncullah agama Zoroaster yang
didirikan oleh Zarathustra. Tetapi tahun tersebut tidak menjadi patokan pasti
berdirinya agama tersebut di Persia, karena banyak literatur yg menyatakan
tahun yang berbeda pula, namun kisaran yang sering di gunakan oleh para penulis
berdasarkan dari bukti-bukti yang ada.
Keyakinan
agama zoroaster meliputi aspek monoteisme dan paganisme sekaligus. Mulanya
keyakinan Zoroaaster hanya mencakup monoteisme saja. Namun seiring
perkembangannya, keyakinan agama ini jg meliputi Paganisme. Pof. Ali Abdul
Wahid Wafi, seorang sejarawan muslim kontemporer, menyatakan bahwa Zarathustra
menyerukan ajaran monoteisme untuk menyembah Tuhan yang satu, pencipta segala
sesuatu dan segala alam, baik yang berupa esensi (ruh) maupun materi (maddah).
Dia menyebut Tuhan yang satu itu dengan nama “Ahura Mazda”.
Menurut penganut Zoroaster, Dzat Ahura Mazda
adalah esensi murni yang suci dari segala bentuk materi, yang tak dapat dilihat
oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal manusia.
Oleh karena itu Zoroasternisme pun membuat rumusan tentang hakikat ketuhanan
Dzat Ahura Mazda dengan dua rumus penting.
Rumus
pertama bersifat transenden (Samawi) yang disimbolkan dengan matahari,
dan rumus yang kedua bersifat imanen (Ardhi) yang disimbolkan dengan
api. Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci,
serta tidak dapat terkontaminasi oleh hal-halyang buruk dan segala bentuk
kerusakan. Kepada cahayalah kehidupan semestaraya ini bergantung. Sifat inilah
yang paling mendekati untuk digambarkan oleh akal manusia akan sifat pencipta.
Anggapan
sakral dan cara pengikut Zoroaster menyucikan api inilah yang pada akhirnya
menjadikan agama tersebut bergeser dari monoteisme ke paganisme. Zoroaster pun
berubah menjadi agama panteisme (hulul) dan paganisme. Api sendiri pada
akhirnya berubah dari sebatas isyarat menjadi Sang Pencipta itu sendiri, dani
pun dirumuskan atasnya.
Sejatinya,
pada tradisi dan ajaran awal Zoroaster, tidak di kenal konsep dua Tuhan.
Zoroaster hanya meyakini dua kekuatan besar dalam kehidupan yang senantiasa
berlawanan atau berbenturan. Salah satunya terkumpul dalam kekuatan kebaikan,
cahaya, kehidupan, kebenaran, dan kemuliaan sementara kekuatan lain terkumpul
dalam kejahatan, kegelapan,kematian, dan angkara murka.
Asy-Syahrastani
berkata: “ sebenarnya, Zoroaster meyakini bahwa Tuhan itu satu, tunggal, tidak
ada sekutu, lawan dan kawan, Pencipta cahay dan kegelapan. Namun para pengikut
Zoroaster meninggalkan pandangan tersebut. Mereka meyakini bahwasannya alam
raya ini tak lain merupakan jelmaan dari pergulatan abadi antara Ahura Mazda,
Dewa Terang, dengan Ahriman, Dewa Kegelapan.kemenangan Ahuran Mazda dalam
kehidupan adalah sesuatu yang pasti dan tak terbantahkan.”[62]
[63]Kitab
suci agama Zoroaster ini di kenal dengan nama Zend Avesta.kitab ini terbagi
lagi menjadi tiga bagian, yakni:
1.
Gathas, kitab yang berisi tentang “nyanyian” atau “ode”
yang secara umum dan tepat dinisbahkan kepada Zoroaster sendiri;
2.
Yashts atau hymne korban yang ditujukan kepada berbagai
macam dewa; dan
3.
Vendidat/ Vindevdat, “aturan melawan syetan”,berupa
sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan prinsip
dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroasternisme dan diuraikan sangat panjang
dalam bidang kehidupan praktis.
Selain
Zoroaster, terdapat pula Madzab keagamaan dan ritual lain, seperti Maniisme[64],
penyembah api, dan Madzhab Mazdak. Madzhab Mazdak ini yang
menggugurkan hak kepemilikan individu. Penganutnya meyakini kepemilikan
bersama, termasuk perempuan dan harta serat menghapus tradisi pernikahan.Ajaran
Mazdak pernah dianut dan dijalankan oleh seorang Raja Dinasti Sasanid. Baik
Zoroaster,maupun Madzhab-Madzhab keagamaan Persia yang lainnya, ternyata
memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi tradisi agama Yahudi, khususnya konsep
kehidupan akhirat dan adanya Messiah. Dikatakan, Jemaah Asiniyyah, salah satu
sekte Yahudi, sangat terpengaruh kuat oleh ajaran Zoroaster, terutama dalam
konsep-konsep dualisme, seperti peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Namun
demikian, diantara kelompok-kelompok agama tersebut kelompok yang paling penting di dunia adalah agama
Zoroaster atau Parsi India. Kelompok ini sering dibandingkan dengan kelompok
Yahudi.[65]
C.
Praktek Agama Persia Kuno
Praktek
penyembahan para dewa dengan cara melakukan pengorbanan untuk menyenangkan hati
para dewa. Api dinyalakan di atas altar yang dibangun khusus dan ke dalamnya
dilemparkan daging binatang, biji-bijian, dan susu perah, sementara itu para
pendeta mengalunkan pujian suci kepada para dewa tersebut. Apa yang dianggap
khusus menyenangkan para dewa adalah persembahan berupa sari tanaman yang
memabukkan, yang disebut soma dalam hymne Weda dan homa dalam
Avesta.
Sementara, untuk
penyembahan kepada nenek moyang di lakukan dengan cara sesajen untuk arwah para
nenek moyang berupa suatu kue yang disebut darun (Iran) atau purodasha
(Indo-Arya).[66]
Sedangkan Agama Zoroaster
menganjurkan pengikutnya untuk senantiasa menyalakan api suci di tungku-tungku
api yang terdapat di setiap kuil peribadatan. Api tersebut harus selalu menyala
dan memancarkan cahaya. Tungku api itu dijaga dan diurus oleh Magi[67],
rohaniawan muda, juga oleh para pendeta kuil. Setiap hari, mereka selalu
memasukkan kayu cendana ke dalam tungku api sebanyak lima kali, atau kayu lain
yang mengeluarkan aroma wewangian khas, juga menaburkan serbuk-serbuk dan
cairan wewangian sehingga udara di dalam kuil selalu terasa segar dan harum
semerbak. Mereka juga merapalkan doa dan melaksanakan ritual keagamaan
disekitar api tersebut.[68]
D.
Peradaban
Persia
Persia merupakan rumah dari salah
satu peradaban tertua didunia. Dari tulisan-tulisan sejarah,
peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran[69],
diikuti dengan peradaban Elam.
Cyrus memimpin pasukan penunggang kuda dan pemanah ulung. Mengambil keuntungan
dari kelemahan para tetangga, ia menaklukkan sebuah kerajaan yang wilayahnya
terentang dari Laut Mediterania hingga ke Afganistan. Bangsa Persia mendapat dukungan
dari warga taklukan berkat pemerintahan yang adil. Darius I memperluas wilayah
hingga ke India dan Yunani. Ia mengatur ulang kerajaan dan menunjuk para satrap
(gubernur) di setiap provinsi. Ia memungut pajak dari setiap provinsi berupa
padi-padian, perak dan hasil pertanian.[70]
Yang
dihasilkan oleh peradaban Persia diantaranya, yang sangat
terkenal karena kesusatraannya. Sehingga hampir seluruh Negara di dunia pasti
mengenal budaya tersebut. Dalam bidang kesusastraan, budaya Persia terkenal dengan
bahasa parsinya. Yang merupakan bahasa penulisan setelah sebelumnya menggunakan
bahasa avista. Bahasa parsi sendiri termasuk dalam rumpun bahasa indo-Europa,
yakni rumpun bahasa yang berasal dari dataran tinggi Iran. Bahasa lain yang
masuk ke dalam rumpun tersebut adalah bahasa yang sudah tidak asing lagi di
Negara Indonesia, yakni bahasa sangsekerta atau bahasa sangskrit. Sementara itu
bahasa yang digunakan oleh bahasa eropa dan termasuk ke dalam rumpun ini antara
lain adalah bahasa latin, jerman dan belanda.
Kemudian
hasil peradaban yang lainnya yakni dalam bidang arsitektur yakni Kincir angin Persia kuno yang merupakan salah satu kincir angin
tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Kincir angin ini dibuat oleh peradaban
Persia sekitar 3000 tahun yang lalu. Kincir angin ini digunakan untuk
menggiling gandum dan memompa air. Selain kincir angin ada juga menara angin
atau wind tower ini digunakan oleh masyarakat Persia untuk sistem ventilasi
udara di rumah – rumah mereka. Sistem ventilasi mereka jauh lebih rumit dari
sistem ventilasi rumah pada saat ini.
Tanya-Jawab:
1.
Yazid Yang dimaksud dengan Peradaban Hellenistik itu seperti apa?
Jawaban:
Pemakalah:
seperti yang terdapat dalam makalah
peradaban Hellenistik itu muncul setelah kematian Alexander Agung. Setelah
peradaban Hellenistik kemudian muncullah peradaban Romawi.
Sintia: Peradaban Hellenistik menurut
pengetahuan saya, yaitu peradaban Romawi yang di padukan dengan peradaban
Persia.
2. Saiful
Bahri: Berkenaan
dengan Ajaran dan Praktek keagamaan, Agama Yunani Kuno itu seperti apa?
Prakteknya Seperti apa? Ajaran-ajarannya bagaimana?
Jawaban:
Pemakalah:
Upacara ritual dilakukan di altar
yang terdapat di dalam kuil (tempat ibadah), dan satu altar/kuil hanya ada satu
atau beberapa dewa saja, tidak di sekaliguskan dalam satu altar/kuil ada
semua/banyak Dewa. Dan sesajennyapun hanya ditujukan untuk dewa yang akan
dituju.
Ibadahnya,
dengan melantunkan nyanyian-nyanyian. Pada saat itu belum berbentuk kitab suci,
tetapi berbentuk puisi-puisi.
Faisal: yang menyebabkan agama Mesir ataupun
Mesopotamia muncul itu oleh letak geografisnya. Ketika di pertanyakan siapa
yang menyampaikan agama Yunani Kuno, jawabannya tidak seperti keadaan pada
kemunculan agama seperti saat ini tetapi kemunculannya berasal dari keyakinan
diri sendiri, yang kemudian terkenal dan berkembang dengan di sebut Dewa-Dewi
yang seperti disebutkan oleh pemakalah dan pembanding.
Mengambil
contoh dari film Herkules yang saya lihat, karena Rajanya percaya kepada
Dewa-Dewi secara otomatis maka rakyatnya
pun mempercayai pula kepada Dewa-Dewi tersebut.
3. Novita: Peninggalan peradaban Yunani Kuno
itu seperti apa? Sistem pemerintahan
Yunani Kuno itu seperti apa? Apakah sama seperti Fir’aun, Raja sebagai manifes
dari Tuhan, atau bagaimana? Alexander Agung itu peranannya seperti apa?
Jawaban:
Pemakalah:
Untuk pertanyaan mengenai
peninggalan peradaban Yunani kuno itu, sudah dijelaskan oleh saudari Dianita
(pembanding).
Sistem
pemerintahannya yaitu sistem polis, yaitu pembagian wilayah menjadi kota.
Dan
kemudian Sistem dari pemerintahan Athena itu demokratis tetapi, sistem
pemerintahan Sparta bersifat militer
4. Rahman: Sistem sosialnya dan sistem hukumnya
seperti apa?
Jawaban:
Roziqin: Yunani mempunyai pengaruh
besarterhadap dunia Barat. Masalah konflik sosial. Sosialnya mengalami masalah
yang sangat besar sehingga menimbulkan peperangan.
Tambahan
Dosen:
Ø Kondisi Geografis di Yunani Kuno
itu, walaupun dia berada di daerah pegunungan tapi tidak dingin melainkan
justru panas dan tanahnya tidak subur. Dengan kondisi geografis dengan iklim
seperti itu membuat orang Yunani Kuno berpindah-pindah membuat kampung-kampung
baru kemudian hal ini lah yang mengacu terbentuknya sistem polis (negara kota).
Ø Monarki itu terbagi menjadi
bermacam-macam; monarki Demokratis, Monarki Otokratis, dll.
Ø Olimpiade adalah bagian dari ritual/
penghormatan kepada dewa Zeus
Ø Athena yang bersistem pemerintahan
Demokratis, dia mempunyai 9 dewan (Raja) yang mewakili sistem pemerintahan
Yunani.
Ø Ke 12 dewa yang ada di Yunani Kuno
itu di pimpin oleh Dewa Zeus dan panglimanya Akiles.
Ø Yang
menaklukan Yunani bukan lah Alexander langsung melainkan ayahnya.
Ø Yunani merupakan termasuk dari
wilayah Islam Turki Usmani.
Ø Era hellenisme terjadi setelah
datangnya Alexander Agung tetapi sebenarnya cikal bakalnya sudah ada sejak
pemerintahan Athena.
Ø Sebenarnya Yunani berada di Asia
Minor.
Kesimpulan
Dari presentasi makalah “AGAMA
YUNANI KUNO” pada tanggal 25 Maret 2013, dapat disimpulkan bahwa kurangnya
keseriusan dalam pengerjaan tugas makalah tersebut, sehingga menyebabkan
tersendatnya alur diskusi, dan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan oleh para audience, kemungkinan dikarenakan kurangnya
pengetahuan dan referensi pemakalah. Kurangnya ketegasan dari moderator juga
mempengaruhi jalannya diskusi ini, sehingga menyebabkan banyak kendala antara
penanya dan penjawab pertanyaan.
Jakarta, 07 April 2013
Ahmad Khoirul Fatihin
[1] Tim Kingfisher. Ensiklopedia Sejarah Dan Budaya Jilid 1.
Jakarta: 2009. PT. Lentera Abadi. Hlm. 40
[2] Bangsa Arya adalah
pengembala-pengembala sapi. Mereka suka berperang, sehingga yang menonjol dari
bangsa ini adalah dalam hal persenjataan perang. Pada tahun 1100 SM bangsa Arya
mulai mengenal besi, sehingga mereka termasuk bangsa yang kuat. Namun mereka tidak
menaklukan Lembah Sungai Indus. Mereka
tinggal
di antara ke tujuh sungai dan selama berabad-abad terus menyebar. Beberapa abad
kemudian (kira-kira tahun 1000 SM) keturunan mereka menyebut diri sebagai
bangsa Arya (berarti: terhormat, murni). Kebudayaan mereka bercampur (melalui
perkawinan, pendudukan, dll) dengan orang-orang terdahulu. Orang-orang itulah
yang mengajarkan mereka membajak dan membangun sebuah peradaban baru yang
berpijak pada peradaban terdahulu. Bangsa Arya membuat saluran-saluran irigasi
dan waduk-waduk. Dikutip dari Tim Program BSB (Belajar Sambil Bermain). Sekilas Sejarah Dunia. Bali: 2011.
Yayasan Gema Ripah. Hlm 40-41.
[3] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 465.
[4] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 465.
[5] Gambar diambil dari Sami bin
Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama.
Jakarta : 2010. Almahira. Hlm 468.
[6] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 466.
[7] Gambar diambil dari Sami bin
Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama.
Jakarta : 2010. Almahira. Hlm 468.
[8] Darius I (548-486 SM) merupakan
seorang penakluk hebat yang memperluas kerajaan ke arah barat dan timur dan
menata ulang wilayah menjadi 20 provinsi. Ia membangun jalan yang baik serta
ibukota kerajaan baru di Persepolis. Dari Lydia di Anatolia, ia mendatangkan
uang emas dan perak ke Persia. Darius menyebut dirinya Shahanshah, raja diraja.
[9] Tim Kingfisher. Ensiklopedia Sejarah Dan Budaya Jilid 1.
Jakarta: 2009. PT. Lentera Abadi. Hlm. 40.
[10] Susa menjadi pusat administrasi,
sementara Persepolis menjadi pusat kenegaraan. Jalan dibangun untuk
memperlancar komunikasi.
[11] Gambar diambil dari Tim
Kingfisher. Ensiklopedia Sejarah Dan
Budaya Jilid 1. Jakarta: 2009. PT. Lentera Abadi. Hlm. 41.
[12] Gambar tersebut menjelaskan
Darius I sedang berburu singan dengan menaiki kereta perang serta membawa busur
dan anak panah. Sosok bersayap melambangkan dewa Ahura Mazda, pemimpin dewa
Persia.
[13] Gambar diambil dari Tim
Kingfisher. Ensiklopedia Sejarah Dan
Budaya Jilid 1. Jakarta: 2009. PT. Lentera Abadi. Hlm. 41.
[14] Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. Sumbangan peradaban Islam Pada Dunia.
Jakarta: 2009. Mu’asasah Iqra. ISBN 978-979-592-555-2. Hlm. 23.
[15] Dafid F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab
diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh.. Jakarta: 1991. PT BPK Gunung Mulia. Hlm
209.
[16] Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. Sumbangan peradaban Islam Pada Dunia.
Jakarta: 2009. Mu’asasah Iqra. ISBN 978-979-592-555-2. Hlm. 23-24.
[17] Gambar diambil dari Sami bin
Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama.
Jakarta : 2010. Almahira. Hlm 472.
[18] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 469.
[19] Transenden adalah diluar segala
kesangggupan manusia; luar biasa; utama. Dikutip dari http://www.artikata.com/arti-354998-transenden.html pada 24 Maret 2013 Jam 14:37 PM.
[20] Dualisme adalah kepercayaan bahwa dalam alam ciptaan ini ada dua
kekuatan yang bekerja, yakni kekuatan yang baik si satu pihak dan kekuatan yang
jahat di pihak lain.
[21] Dafid F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab
diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh.. Jakarta: 1991. PT BPK Gunung Mulia. Hlm
210.
[22] http://zulfanafdhilla.blogspot.com/2012/12/agama-zoroastrianism-mazdayasna.html#ixzz2OMa6mXAn diunduh 23 Maret 2013 jam 6:58 PM
[23] Joesoef Soi’yb. Agama-Agama Besar Di Dunia. Jakarta:
1996. PT. Al Husna Zikra. Hlm. 223.
[24] H. A. Mukti Ali.. Agama-Agama Di Dunia. Yogyakarta: 1988.
IAIN Sunan Kalijaga Press. Hlm. 270-271.
[25] Magi adalah para pemimpin agama.
[26] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 469.
[27] Gambar diambil dari Sami bin
Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama.
Jakarta : 2010. Almahira. Hlm 471.
[28] Tempat ini berfungsi untuk
menjaga api tetap menyala.
[29] Gambar diambil dari Sami bin
Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama.
Jakarta : 2010. Almahira. Hlm 472.
[30] http://zulfanafdhilla.blogspot.com/2012/12/agama-zoroastrianism-mazdayasna.html#ixzz2OMa6mXAn diunduh 23 Maret 2013 jam 6:58 PM
[31]
ibid
[32] ibid
[33] Dafid F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab
diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh.. Jakarta: 1991. PT BPK Gunung Mulia. Hlm
210.
[34] http://alkitab.sabda.org/resource.php?res=almanac&topic=207 diunduh pada 6 April 2013 Jam
2.23 AM
[35] Drs. Badri yatim, M.A.. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: 1997.
PT Raja Grafindo Persada. Hlm 44.
[36] Safi al-Din berasal dari
keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia
keturunan dari Imam Syi’ah yang keenam, Musa al-Kahzim. Gurunya bernama Syekh
Taj al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid
al-Gilani.
[37] Drs. Badri yatim, M.A.. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: 1997.
PT Raja Grafindo Persada. Hlm 138-139.
[38] Tim Kingfisher. Ensiklopedia Sejarah Dan Budaya Jilid 3.
Jakarta: 2009. PT. Lentera Abadi. Hlm. 209.
[39] Safavid adalah nama lain dari
Safawi.
[40] Drs. Badri yatim, M.A.. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: 1997.
PT Raja Grafindo Persada. Hlm 144.
[41] Ibid 144-145.
[43] Tim Kingfisher. Ensiklopedia Geografi Jilid 3. Jakarta: 2006. PT Lentera Abadi.
Hlm. 255.
[44] Penyulingan di kota Abadan.
Berada di kawasan utara Teluk, Abadan adalah kota pusat kegiatan transportasi
dan pengolahan minyak.
[45] Gambar diambil dari Tim
Kingfisher. Ensiklopedia Geografi Jilid
3. Jakarta: 2006. PT Lentera Abadi. Hlm. 255.
[46] Sekitar 100 tempat pembuatan
karpet berada di Esfahan, kota di bagian tengah Iran. Kota ini menjadi pusat
usaha tekstil dan kain serat sutra, serat sintetis dan wol untuk industri
pembuatan pakaian dan karpet.
[47] Gambar diambil dari Tim
Kingfisher. Ensiklopedia Geografi Jilid
3. Jakarta: 2006. PT Lentera Abadi. Hlm. 254.
[48] Ibid hlm. 255.
[50] Sami bin Abdullah al-Maghlouth, Atlas
Agama-Agama. (Jakarta : 2010, Almahira), Hal. 465
[51] http://id.wikipedia.org/wiki/Iran,
06 Apr. 13
[52] Ibid
[53] Sami bin Abdullah al-Maghlouth, Atlas
Agama-Agama. (Jakarta : 2010, Almahira), Hal. 466
[54] http://id.wikipedia.org/wiki/Iran,
06 Apr. 13
[55] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 466.
[57] http://id.wikipedia.org/wiki/Iran,
06 Apr. 13
[58] Ibid
[59] Ibid
[60]
PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia,(Peshawar, 1975), hal.72
[62]
Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama, (Jakarta: Almahira,
2010), hal.470
[63]
H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga,
1988), hal. 270
[65]
Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama, (Jakarta: Almahira,
2010), hal. 471
[66]
PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia,(Peshawar, 1975), hal.71
[67] Magi adalah para pemimpin agama.
[68] Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama. Jakarta : 2010.
Almahira. Hlm 469.
[70] Tim Kingfisher. Ensiklopedia Sejarah Dan Budaya Jilid 1.
Jakarta: 2009. PT. Lentera Abadi. Hlm. 40.
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)